Jumat, 08 Oktober 2010 16:30
WIB
Banyak
pemilik yang mengeluh kalau mobilnya lebih boros bbm dari sebelumnya. Ada dua faktor besar yang
menjadi penyebabnya. Perubahan perilaku mengemudi atau memang ada masalah pada
mobilnya sendiri. Nah, jika Anda mau meluangkan waktu untuk memeriksa kondisi
beberapa komponen, ini bisa menjadi langkah penghematan. Apalagi bagi kendaraan
yang telah berumur di atas 3 tahun, keausan komponen yang berhubungan dengan
gesekan pun kian meninggi.
Nah, kami coba untuk memilah menjadi 10 penyebab kendaraan menjadi konsumtif terhadap bahan bakar - tentu tanpa harus melakukan overhaul mesin.
1. Tekanan angin ban
Ini merupakan pekerjaan mudah namun banyak pemilik kendaraan yang malas melakukan pemeriksaan secara berkala. Berdasarkan hasil survei yang pernah Auto Bild lakukan, 40,6% pemilik kendaraan tidak care terhadap tekanan angin ban.
Padahal menjalankan mobil dengan tekanan angin ban kurang memiliki beberapa konsekuensi. Selain penyebab konsumsi bbm boros, ban bertekanan di bawah rekomendasi bisa menyebabkan pecah ban.
2. Oli mesin, transmisi dan gardan
Mayoritas pemilik kendaraan lebih care terhadap penggantian oli mesin ketimbang oli transmisi dan gardan. Memang sih, kerja oli mesin lebih berat ketimbang kedua pelumas itu, tapi jika Anda mau sedikit berkompromi, Anda dapat memanfaatkan kelebihan teknologi oli mesin masa kini yang mampu digunakan hingga 10.000 km.
“Konsumen Indonesia begitu konsumtif dengan oli mesin. Makanya, jika ada konsumen yang ingin mengganti oli sebelum waktunya, akan saya tolak,” kata Usman Adie, kepala bengkel Tunas Toyota cabang Dewi Sartika, Cawang, Jakarta Timur.
Jika kendaraan Anda tidak mengalami kebocoran kompresi, tak ada salahnya menggunakan oli mesin hingga batas maksimal. Nah selebihnya, Anda dapat lebih memperhatikan oli transmisi dan gardan agar gesekan di komponen drave train tersebut tetap minimal.
3. Bearing roda
Komponen ini memiliki ciri dengungan saat kecepatan tinggi jika sudah rusak. Bila kerusakan ini dibiarkan, konsumsi bbm akan tersedot lantaran putaran roda yang kurang lancar.
4. Bearing alternator, kompresor AC dan water pump
Dalam kondisi normal, saat kompresor AC bekerja, tenaga mesin akan terkuras hingga 5 dk atau lebih. Bagi mesin bertenaga besar, mungkin angka ini tidak terlalu berpengaruh. Tapi untuk mesin kecil, AC sangat berpengaruh pada performa mesin.
Apalagi bila bearing kompresor juga sudah rusak, beban mesin akan semakin bertambah. Tak hanya itu, alternator dan water pump juga memiliki dampak serupa jika bearing-nya tak bekerja normal.
5. Spooring
Meluruskan kembali sudut-sudut di roda memiliki dampak penghematan yang signifikan. Selain memperpanjang umur komponen suspensi seperti tie-rod, bearing, ban dan lainnya, spooring atau wheel alignment mampu mengefisienkan penggunaan bahan bakar. Dengan sudut roda benar, gesekan ban dengan aspal akan diminimalkan.
6. Rem macet
Korosi di dalam sistem rem akan membuat piston di kaliper tidak bekerja dengan baik dan tak kembali ke posisi semula setelah rem diinjak. Hasilnya, kampas rem akan bergesekan dengan cakram atau teromol sehingga putaran roda tidak lancar.
7. Knalpot bocor
Selain perubahan suara, knalpot bocor tak ubahnya dengan mengganti sistem gas buang model free flow. Lancarnya gas buang, membuat mesin akan menghisap bensin lebih banyak ke dalam ruang bakar.
8. Ban botak
Luas penampang ban botak yang menyentuh aspal akan lebih banyak dengan tidak adanya alur ban. Ini membuat gesekan bertambah dan lebih membahayakan saat kondisi hujan atau jalan basah. Ban tak akan mampu menyingkirkan air ke pinggir ban.
9. Kabel busi bocor
Selain riskan terhadap bahaya kebakaran, kabel busi bocor akan membuat arus yang sampai ke busi tidak optimal. Dampaknya bensin akan tidak terbakar sempurna akibat lemahnya api di busi, terutama di putaran mesin rendah.
10. Injektor atau karburator kotor
Semprotan injektor pada mesin berpasokan bahan bakar injeksi yang tidak sempurna akan menghasilkan butiran bensin yang sulit terbakar. Begitu pula dengan karburator kotor, air-fuel ratio ideal akan sulit tercapai.
Nah, kami coba untuk memilah menjadi 10 penyebab kendaraan menjadi konsumtif terhadap bahan bakar - tentu tanpa harus melakukan overhaul mesin.
1. Tekanan angin ban
Ini merupakan pekerjaan mudah namun banyak pemilik kendaraan yang malas melakukan pemeriksaan secara berkala. Berdasarkan hasil survei yang pernah Auto Bild lakukan, 40,6% pemilik kendaraan tidak care terhadap tekanan angin ban.
Padahal menjalankan mobil dengan tekanan angin ban kurang memiliki beberapa konsekuensi. Selain penyebab konsumsi bbm boros, ban bertekanan di bawah rekomendasi bisa menyebabkan pecah ban.
2. Oli mesin, transmisi dan gardan
Mayoritas pemilik kendaraan lebih care terhadap penggantian oli mesin ketimbang oli transmisi dan gardan. Memang sih, kerja oli mesin lebih berat ketimbang kedua pelumas itu, tapi jika Anda mau sedikit berkompromi, Anda dapat memanfaatkan kelebihan teknologi oli mesin masa kini yang mampu digunakan hingga 10.000 km.
“Konsumen Indonesia begitu konsumtif dengan oli mesin. Makanya, jika ada konsumen yang ingin mengganti oli sebelum waktunya, akan saya tolak,” kata Usman Adie, kepala bengkel Tunas Toyota cabang Dewi Sartika, Cawang, Jakarta Timur.
Jika kendaraan Anda tidak mengalami kebocoran kompresi, tak ada salahnya menggunakan oli mesin hingga batas maksimal. Nah selebihnya, Anda dapat lebih memperhatikan oli transmisi dan gardan agar gesekan di komponen drave train tersebut tetap minimal.
3. Bearing roda
Komponen ini memiliki ciri dengungan saat kecepatan tinggi jika sudah rusak. Bila kerusakan ini dibiarkan, konsumsi bbm akan tersedot lantaran putaran roda yang kurang lancar.
4. Bearing alternator, kompresor AC dan water pump
Dalam kondisi normal, saat kompresor AC bekerja, tenaga mesin akan terkuras hingga 5 dk atau lebih. Bagi mesin bertenaga besar, mungkin angka ini tidak terlalu berpengaruh. Tapi untuk mesin kecil, AC sangat berpengaruh pada performa mesin.
Apalagi bila bearing kompresor juga sudah rusak, beban mesin akan semakin bertambah. Tak hanya itu, alternator dan water pump juga memiliki dampak serupa jika bearing-nya tak bekerja normal.
5. Spooring
Meluruskan kembali sudut-sudut di roda memiliki dampak penghematan yang signifikan. Selain memperpanjang umur komponen suspensi seperti tie-rod, bearing, ban dan lainnya, spooring atau wheel alignment mampu mengefisienkan penggunaan bahan bakar. Dengan sudut roda benar, gesekan ban dengan aspal akan diminimalkan.
6. Rem macet
Korosi di dalam sistem rem akan membuat piston di kaliper tidak bekerja dengan baik dan tak kembali ke posisi semula setelah rem diinjak. Hasilnya, kampas rem akan bergesekan dengan cakram atau teromol sehingga putaran roda tidak lancar.
7. Knalpot bocor
Selain perubahan suara, knalpot bocor tak ubahnya dengan mengganti sistem gas buang model free flow. Lancarnya gas buang, membuat mesin akan menghisap bensin lebih banyak ke dalam ruang bakar.
8. Ban botak
Luas penampang ban botak yang menyentuh aspal akan lebih banyak dengan tidak adanya alur ban. Ini membuat gesekan bertambah dan lebih membahayakan saat kondisi hujan atau jalan basah. Ban tak akan mampu menyingkirkan air ke pinggir ban.
9. Kabel busi bocor
Selain riskan terhadap bahaya kebakaran, kabel busi bocor akan membuat arus yang sampai ke busi tidak optimal. Dampaknya bensin akan tidak terbakar sempurna akibat lemahnya api di busi, terutama di putaran mesin rendah.
10. Injektor atau karburator kotor
Semprotan injektor pada mesin berpasokan bahan bakar injeksi yang tidak sempurna akan menghasilkan butiran bensin yang sulit terbakar. Begitu pula dengan karburator kotor, air-fuel ratio ideal akan sulit tercapai.

0 comments:
Post a Comment